Hai, Salam Kenal.
Terima Kasih atas waktu yang Anda berikan untuk mengenal lebih jau tentang siapa sebenarnya pemilik Blog “OTAK HESKI” ini. 

Perkenalkan, Nama Lengkap Heidi Kristiani Heski Repi. Demikian Nama panjang saya. Dan Terus terang saja, saya sependapat dengan Anda “Itu nama atau judul skripsi yah ?”
Entah kenapa orang tua saya tertarik dengan kumpulan nama tersebut. Bukan kah, setiap nama mengandung arti dan makna ?

Saya pun bertaya “Mama, Papa, Kenapa nama saya harus sebanyak itu ?”
“Nak, nama itu, hasil perdebatan hebat antara Papa dan Mama” Jawab kedua orang tua yang dengan sengaja merencanakan hadirnya saya di dunia. 

9 Desember 1989, saya lahir (ane lupa, lahir siang ato malam yah ?)
Tidak beda dengan bayi-bayi lainnya, lahir dengan tubuh mungil dan sesuai jangka waktu normal, yakni sembilan bulan. Saya sukses menangis akibat hukum alam. Dan kata kebanyakan orang, baik dukun beranak sampai kaum akademik,  menangis  di usia baru lahir  itu bagus. Syukurlah. Hal itu terjadi sama saya.
Di hari dan jam itu juga, tangisan saya membuat Mama dan Papa sadar akan sesuatu. Yupz, benar. Nama.
Salah satu akar permasalahan kenapa nama saya memicu perdebatan, karena, tidak ada persiapan matang untuk memberikan nama kepada seorang bayi yang akan lahir. 

Saya maklumi, semasa itu, orang tua saya terlalu gembira. Mau tahu kenapa ? Hanya saya, seorang diri anak berjenis kelamin laki-laki. Waw…. Karena itu lah, ingin sekali kedua orang tua saya memenangkan ego mereka hanya untuk ambil jatah sebuah nama. Belum selesai berdebat, hadir seorang pendeta. Lucunya, Pendeta itu, tokoh yang turut ambil bagian dalam memperlebar Nama saya yang nantinya akan membuat saya “pusing”  dalam pengurusan administrasi Akademisi J
Singkat cerita, Ayah berhasil menubuatkan sebuah nama. Heidi. “Kenapa harus Heidi Pa ? kok terdengar Perempuan ?” Saya bertanya, Ayah hanya diam. Terdengar suara sumbang dari dapur “Ia Nak, terus tanya, dari mana nama Heidi itu” muka memerah, suara ibu terdengar mengancam.
Tidak saya teruskan introgasi kepada Ayah, setelah melihat Ibu yang mungkin cemberut  “Siapa yg tahu, Heidi adalah masa lalu Ayah” Tapi, yang anehnya, kok harus nama perempuan yah ? ah…. Etahlah…..
Kini giliran Ibu. 

Saya sedikit setuju dengan pemberian nama dari Ibu.
Kristiani. Mudah menembak arti dari nama tersebut. Sangat jelas, nama Kristiani sudah tentu adobsi dari sebuah keyakinan. Namun, saya masih agak “geli”. lagi-lagi ada bumbu nama-perempuannya. Coba di survei, kebanyakan Nama Kristiani itu, lebih tepatnya, seorang perempuan Kristen. Terlambat untuk meralat, pemberian nama terjadi sejak saya masih belum memahami dunia. Andai waktu itu saya sudah bisa berbicara, akan terjadi tukar pendapat. Dan jika hal itu terjadi, saya pasti terkenal. Mana ada, bayi baru lahir kok sudah bisa menyusun kata2 ? Apa lagi harus mengungkapkan pendapat ? “ngaur” J Intinya, Nama Kristian, tanpa akhiran “i” mungkin terdengar lebih keren.

 Syukur, identitas saya diselamatkan oleh tokoh pendeta. Dia bukan hanya memberkati saya dan keluarga melalui doa, tapi, jujur saja, pendeta itu menyelamatkan harga diri saya. Melalui ide nama darinya, saya sangat merasa nyaman dengan nama Heski.
Heski. Terdengar nama laki-laki. Tidak terkesan nama perempuan. Saya senang dengan nama ini. Terima kasih buat pendeta. 

Saya tidak dapat menceritakan secara rinci arti dari nama Heski ini. Sejak saya masih bayi sampai sudah sebesar ini, tidak pernah bertemu lagi dengan sang pemberi nama itu. Namun, kata Ayah, Nama Heski yang diberikan pendeta tersebut mengandung arti dari seorang pejuang Tuhan. Yakni, di ambil dalam Nama YEHEZKIEL. Di compres menjadi Heski. Yang seharunya huruf “Z” di ubah menjadi “S”. Ayah sendiri tidak tahu kenapa nama saya diambil dari pejuang Tuhan namun tidak mentok persis sesuai dengan tulisannya. Kenapa tidak YEHEZKIEL saja kan ? 

Dengan demikian, tercetuslah Nama serupa judul makalah, Heidi Kristiani Heski Repi. Itulah Gabungan nama antara Ayah, Ibu dan Pendeta. Oh ia, Repi adalah marga dari bapak.